Kedudukan Fungsi kuadrat terhadap sumbu X

30 Dec

 

file ppt:

KEDUDUKAN FUNGSI KUADRAT TERHADAP SUMBU-X

KEMAMPUAN MATEMATIS

16 Dec

Daya matematis didefinisikan oleh NCTM (1999) sebagai, “Mathematical power includes the ability to explore, conjecture, and reason logically; to solve non-routine problems; to communicate about and through mathematics; and to connect ideas within mathematics and between mathematics and other intellectual activity. Kemampuan matematis adalah kemampuan untuk enghadapi permasalahan baik dalam matematika maupun kehidupan nyata.

Menurut Pinellas County Schools, Division of Curriculum and Instruction Secondary Mathematics (Tersedia Online pada http://fcit.usf.edu/fcat8m/resource/mathpowr/fullpower.pdf),daya matematis meliputi;

1. standard proses (process standards), yaitu tujuan yang ingin dicapai dari proses pembelajaran, proses standar meliputi, kemampuan pemecahan masalah kemampuan berargumentasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat koneksi (connection) dan kemampuan representasi;

2. Ruang lingkup materi (content strands), adalah kompetensi dasar yang disyaratkan oleh kurikulum sesuai dengan tingkat pembelajaran siswa, bagi Indonesia ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMA/MA meliputi aspek-aspek sebagai berikut: Logika, Aljabar, Geometri, Trigonometri, Kalkulus, Statistika dan Peluang (KTSP, 2006);

3. Kemampuan Matematis (Mathematical Abilities), yaitu pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk dapat melakukan manipulasi matematika meliputi pemahaman konsep dan pengetahuan procedural

Selanjutnya berdasarkan tujuan pembelajaran matematika di Indonesia tersirat bahwa kemampuan matematis meliputi;

1. Kemampuan pemecahan masalah (problem solving)

Masalah adalah sebuah kata yang sering terdengan oleh kita.Namun sesuatu menjadi masalah tergantung bagaimana seseorang mendapatkan masalah tersebut sesuai kemampuannya.Terkadang dalam pendidikan matematika SD ada masalah bagi kelas rendah namun bukan masalah bagi kelas tinggi.Masalah merupakan suatu konflik,hambatan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas belajaraannya di kelas.Namun masalah harus diselesaikan agar proses berpikir siswa terus berkembang.Semakin banyak siswa dapat menyelesaikan setiap permasalahan matematika,maka siswa akan kaya akan variasi dalam menyelesaikan soal-soal matematika dalam bentuk apapun baikyang rutin maupun yang tidak rutin. Jenis masalah dalam pembelajaran SD ada 4 yaitu:

a. Masalah Translasi adalah masalah yang berhubungan aktivitas sehari-hari siswa.

contoh: Ade membeli permen Sugus 12 buah.Bagaimana cara Ade membagikan kepada 24 orang temannya agar semua kebagian dengan adil?

b. Masalah Aplikasi adalah masalah yang menerapkan suatu konsep,rumus matematika dalam sebuah soal-soal matematika.

Contoh: suatu kolam berbentuk persegipanjang yang berukuran panjang 20 meter dan lebar 10 meter.Berapa luas kolam tersebut?

c. Masalah Proses/Pola adalah masalah yang memiliki pola, keteraturan dalam penyelesainnya.

Contoh: 2 4 6 8 … Berapa angka berikutnya?

d. Masalah Teka-teki adalah masalah yang sifat menerka atau dapat berupa permainan namun tetap mengacu pada konsep dalam matematika.

contoh:Aku adalah anggota bilangan Asli,aku adalah bilangan perkasa,jika kelipatannku dijumlahkan angka-angkanya hasilnya adalah aku,siapakah aku?

Pemecahan masalah memerlukan strategi dalam menyelesaikannya.Kebenaran,ketepatan,keuletan dan kecepatan adalah suatu hal yang diperlukan dalam penyelesaian masalah.Keterampilan siswa dalam menyusun suatu strategi adalah suatu kemampuan yang harus dilihat oleh guru.Jawaban benar bukan standar ukur mutlak,namun proses yang lebih penting darimana siswa dapat mendapatkan jawaban tersebut.

2. Kemampuan berargumentasi(reasonning)

Penalaran adalah konsep berfikir yang berusaha menghubung-hubungkan faktaTu evidensi yang diketahui menuju kesimpulan. Kesimpulan yang bersifat umum dapat ditarik dari kasus-kasus yang bersifat individual disebut penalaran induktif. Tetapi dapat pula sebaliknya, dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual, penalaran seperti itu disebut penalaran deduktif.

Penalaran matematis penting untuk mengetahui dan mengerjakan matematika. Kemampuan untuk bernalar menjadikan siswa dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya, di dalam dan di luar sekolah. Kapanpun kita menggunakan penalaran untuk memvalidasi pemikiran kita, maka kita meningkatkan rasa percaya diri dengan matematika dan berpikir secara matematik. Adapun aktivitas yang tercakup di dalam kegiatan penalaran matematik meliputi: menarik kesimpulan logis; menggunakan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat-sifat, dan hubungan; memperkirakan jawaban dan proses solusi; menggunakan pola dan hubungan; untuk menganalisis situasi matematik, menarik analogi dan generalisasi; menyusun dan menguji konjektur; memberikan lawan contoh (counter example); mengikuti aturan inferensi; memeriksa validitas argument; menyusun argument yang valid; menyusun pembuktian langsung, tak langsung dan menggunakan induksi matematik (Sumarmo, 2003).

3. Kemampuan berkomunikasi (communication)

Kemampuan berkomunikasi dalam matematika merupakan kemampuanyang dapat menyertakan dan memuat berbagai kesempatan untuk berkomunikasi dalam bentuk:

• mereflesikan benda-benda nyata, gambar, atau ide-ide matematika;

• membuat model situasi atau persoalan menggunakan metode oral, tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar;

• menggunakan keahlian membaca, menulis, dan menelaah, untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide, simbol, istilah, serta informasi matematika;

• merespon suatu pernyataan/persoalan dalam bentuk argument yang meyakinkan.

4. Kemampuan membuat koneksi (connection)

Kemampuan koneksi matematik adalah kemampuan yang ditunjukkan siswa dalam:

1. Mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama

2. Mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi yang ekuivalen

3. Menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan keterkaitan di luar matematika

4. Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memunculkan dan meningkatkan kemampuan koneksi matematik siswa, dapat digunakan berbagai macam pendekatan pembelajaran, salah satunya adalah pendekatan konstruktivisme. Pendekatan konstruktivisme merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa diberdayakan oleh pengetahuan yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian (solusi), debat antara satu dengan lainnya, serta berpikir kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.

5. Kemampuan representasi (representation)

Kemampuan representasi matematis adalah salah satu standar proses yang perlu ditumbuhkan dan dimiliki siswa. Standar proses ini hendaknya disampaikan selama proses belajar matematika. Karakteristik Pendidikan Matematika Realistik (PMR) berpotensi dapat membelajarkan siswa menciptakan dan menggunakan representasi.

CONTOH LEMBAR VALIDASI SOAL

16 Dec


Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat operasi hitung pecahan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar   : Mengenal bilagan pecahan dan melakukan operasi bilangan pecahan

Nama Validator              :  ………………………………………..

Hari / Tanggal Validasi : …………………………………………

NO Indikator Soal

Soal Validitas (*)
Ya Tidak
1 Siswa mampu memberikan contoh bilangan pecahan Pecahan yang paling tepat untuk menunjukkan gambar yang diarsir berikut
2 Siswa mampu memahami pecahan yang senilai Ibu memiliki sebuah semangka yang akan dibagikan kepada 4 orang anak perempuan dan 2 anak laki-laki dengan sama besar, maka bagian anak laki-laki adalah….
3 Siswa mampu menyederhanakan pecahan Sederhanakan pecahan berikut =…
4 Siswa mampu merubah pecahan biasa menjadi pecahan canpuran dan sebaliknya Nyatakan ke dalam bentuk pecahan campuran

a.                        b.                           c.

 

nyatakan ke dalam bentuk pecahan biasa

a.                    b.                       c.

5 Siswa mampu merubah pecahan biasa menjadi desimal dan sebaliknya Nyatakan ke dalam pecahan Desimal

a.                      b.                        c.

6 Siswa mampu merubah pecahan biasa menjadi persen dan sebaliknya Pecahan persen  jika ditulis dalam bentuk pecahan biasa adalah
7 Siswa mampu melakukan operasi  penjumlahan dan pengurangan Hitunglah :

a.             b.        c.

 

8 Siswa mampu melakukan operasi perkalian dan pembagian Hitunglah :

a.          b.

c.              d.

Padang, ………………2010

Validator

 

 

 

 

 

………………………………

(*) beri tanda  pada pilihan anda

PENGERTIAN TES, JENIS-JENIS TES,

16 Dec

 

DAN KRITERIA SUATU INSTRUMEN TES YANG BAIK

 

Penilaian pendidikan bukanlah semata-mata penilaian hasil belajar, tetapi mencangkup aspek yang lebih luas yaitu input/komponen, proses, produk dan program pendidikan. Untuk dapat menilai aspek-aspek tersebut dengan komponen-komponen yang menyertainya, maka instrumen-instrumen penilaian pendidikan yang digunakan harus terkait dengan aspek yang dinilai dan tujuan pada masing-masing aspek tersebut. Secara garis besar instrumen evaluasi dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu  tes dan non tes. Perbedaan yang prinsip antara tes dan non tes, terletak pada jawaban yang diberikan. Dalam suatu tes hanya ada kemungkinan benar atau salah, sedangkan untuk non tes tidak ada jawaban benar atau salah, semuanya tergantung kepada keadaan seseorang. Selanjutnya akan diuraikan lebih rinci mengenai tes sebagai sebagai alat evaluasi hasil belajar.

 

A. Pengertian Tes

Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes hasil belajar adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

 

B. Jenis-Jenis Tes

1.       Dari segi bentuk pelaksanaannya

a.          Tes Tertulis ( paper and pencil test)

Tes tertulis dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada penggunaan kertas dan pencil sebagai instrumen utamanya, sehingga tes mengerjakan soal atau jawaban ujian pada kertas ujian secara tertulis, baik dengan tulisan tangan maupun menggunakan komputer.

b.         Tes Lisan ( oral test)

Tes lisan dilakukan dengan pembicaraan atau wawancara tatap muka antara guru dan murid.

c.          Tes Perbuatan (performance test)

Tes perbuatan mengacu pada proses penampilan seseorang dalam melakukan sesuatu unit kerja. Tes perbuatan mengutamakan pelaksanaan perbuatan peserta didik.

2.       Dari segi bentuk soal dan kemungkinan jawabannya

a.          Tes Essay (uraian)

Tes Essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun, mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri.

b.         Tes Objektif

Tes objektif adalah tes yang disusun sedemikian rupa dan telah disediakan alternatif jawabannya. Tes ini terdiri dariberbagai macam bentuk, antara lain ;

Tes Betul-Salah (TrueFalse)

Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice)

Tes Menjodohkan (Matching)

Tes Analisa Hubungan (Relationship Analysis)

3.       Dari segi fungsi tes di sekolah

a.          Tes Formatif

Tes Formatif, yaitu tes yang diberikan untuk memonitor kemajuan belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Tes ini diberikankan dalam tiap satuan unit pembelajaran. Manfaat tes formatif bagi peserta didik adalah :

Untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai materi dalam tiap unit pembelajaran.

Merupakan penguatan bagi peserta didik.

Merupakan usaha perbaikan bagi siswa, karena dengan tes formatif peserta didik mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.

Peserta didik dapat mengetahui bagian dari bahan yang mana yang belum dikuasainya.

b.         Tes Summatif

Tes sumatif diberikan dengan maksud untuk mengetahui penguasaan atau pencapaian peserta didik dalam bidang tertentu. Tes sumatif dilaksanakan pada tengah atau akhir semester.

c.          Tes Penempatan

Tes penempatan adalah tes yang diberikan dalam rangka menentukan jurusan yang akan dimasuki peserta didik atau kelompok mana yang paling baik ditempati atau dimasuki peserta didik dalam belajar.

d.         Tes Diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagosis penyebab kesulitan yang dihadapi seseorang baik dari segi intelektual, emosi, fisik dan lain-lain yang mengganggu kegiatan belajarnya.

 

C.    Ciri-ciri Tes Yang Baik

Sebuah tes dikatakan baik jika memenuhi persyaratan:

  1. Bersifat valid atau memiliki validitas yang cukup tinggi. Suatu tes dikatakan valid bila tes  itu isinya dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur, artinya alat ukur yang digunakan tepat
  2. Bersifat reliable, atau memiliki reliabelitas yang baik. Reliabelitas sering diartikan dengan keterandalan. Suatu tes dikatakan relliabel jika tes itu diberikan berulang-ulang memberikan hasil yang sama.
  3. Bersifat praktis atau memiliki kepraktisan. Tes memiliki sifat kepraktisan artinya praktis dari segi perencanaan, pelaksanaan tes dan memiliki nilai ekonomi tetapi harus tetap mempertimbangkan kerahasiaan tes.

Namun syarat minimum yang harus dimiliki oleh sebuah tes yang baik adalah valid dan reliable.

 

D. Langkah-langkah Pengembangan Tes

Ada enam tahap dalam merencanakan dan menyusun tes agar diperoleh tes yang baik,yaitu:

1)      Pengembangan spesifikasi tes

Spesifikasi tes adalah suatu ukuran yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah :

a)      Menentukan tujuan, tujuan pembelajaran yang baik hendaklah berorientasi kepada peserta didik, bersifat menguraikan hasil belajar, harus jelas dan dapat dimengerti, mengandung kata kerja yang jelas (kata kerja operasional), serta dapat diamati dan dapat di ukur.

b)      Menyusun kisi-kisi soal, penyusunan kisi-kisi soal bertujuan untuk merumuskan setepat mungkin ruang lingkup, tekanan dan bagian-bagian tes sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusun tes.

c)      Memilih tipe soal, dalam memilih tipe soal perlu diperhatikan kesesuaian antara tipe soal dengan materi, tujuan evaluasi, skoring, pengelolaan hasil evaluasi, penyelenggaraan tes, serta ketersediaan dana dan kepraktisan.

d)     Merencanakan tingkat kesukaran soal, untuk soal objektif dapat diketahui melalui uji coba atau dapat juga diperkirakan berdasarkan berat ringannya beban penyeleaian soal tersebut

e)      Merencanakan banyak soal

f)       Merencanakan jadwal penerbitan soal

2)      Penulisan soal

3)      Penelaahan soal, yaitu menguji validitas soal yang bertujuan untuk mencermati apakah butir-butir soal yang disusun sudah tepat untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan, ditinjau dari segi isi/materi, kriteria dan psikologis.

4)      Pengujian butir-butir soal secara empiris, kegiatan ini sangat penting jika soal yang dibuat akan dibakukan.

5)      Penganalisisan hasil uji coba.

6)      Pengadministrasian soal

 

E. Menganalisis Tes

Menganalisis instrument (alat evaluasi) bertujuan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan atau yang akan digunakan sudah memenuhi syarat-syarat sebagai alat ukur yang baik, tepat mengukur sesuatu sesuai tujuan yang telah dirumuskan. Sebuah instrument dikatakan baik jika memenuhi syarat  validitas, reliabelitas dan bersifat praktis.

1. Validitas Tes

Suatu tes dikatakan valid jika tes itu dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Valid disebut juga sahih, terandalkan atau tepat. Tes hasil belajar yang valid, harus dapat menggambarkan hasil belajar yang di ukur

Macam-macam validitas

1). Validitas isi (content validity)

Validitas isi sering juga disebut validitas logis atau validitas rasional.      Validitas isi dapat dianalisis dengan bantuan kisi-kisi tes dan pedoman penelaahan butir soal.

 

 

Penelaahan butir soal secara umum ditinjau dari tiga aspek yaitu:

    1. Aspek materi
    2. Aspek bahasa
    3. Aspek konstruksi

2). Validitas ramalan (predictive validity)

Suatu tes dikatakan memiliki validitas ramalan, apabila hasil pengukuran yang dilakukan dengan tes itu dapat digunakan untuk meramalkan, atau tes itu mempunyai daya prediksi yang cukup kuat. Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang memiliki validitas ramalan dapat dilakukan dengan mengkorelasikan tes hasil belajar yang sedang diuji dengan kriterium yang ada.

3)   Validitas bandingan (concurent validity)

Suatu tes dikatakan memiliki validitas concurrent, apabila tes tersebut mempunyai kesesuaian dengan hasil pengukuran lain yang dilaksanakan saat itu. Misalnya, membandingkan hasil tes dari soal yang sedang dicari validitasnya dengan hasil tes dari soal standar. Jika terdapat korelasi yang positif antara kedua tes tersbut, berarti soal tes yang dibuat mempunyai validitas concurrent.

4).Construct validity (validitas konstruk)

Validitas konstruk artinya butir-butir soal dalam tes tersebut membangun setiap aspek berpikir seperti yang tercantum dalam tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Penganalisisan validitas ini dapat dilakukan dengan jalan melakukan pencocokan antara aspek berpikir yang dikehendaki diungkapkan oleh tujuan pembelajaran, yaitu melalui penelaahan butir-butir soal.

Meski terdapat beberapa jenis validitas, dalam periode terakhir validitas dianggap sebagai suatu konsep utuh, tidak dipilah-pilah sebagai jenis validitas.

 

  • Cara menentukan validitas instrumen

Validitas instrument dapat diketahui dengan mencari korelasi hasil instrument dengan dengan kriterium atau melakukan analisis butir. Apabila data yang digunakan adalah data interval maka dapat digunakan rumus Product Moment Korelasi, sebagai berikut :

 

 

 

v  Rumus Angka Kasar

 

 

Keterangan :

= Koefisien korelasi antara instrument X dan instrument Y

 

v  Rumus untuk skor deviasi

 

Kriteria- kriteria hasil validitas :

Antara  sangat tinggi

Antara  tinggi

Antara  cukup

Antara  rendah

Antara  sangat rendah             (Yusuf, 2005:75).

 

  • Cara menentukan validitas tiap butir soal

Tinggi rendahnya validitas soal secara keseluruhan berhubungan dengan validitas tiap butir soal. Validitas butir soal dapat dicari dalam hubungannya dengan skor total tiap individu yang ikut serta dalam evaluasi. Langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut :

1.       Skor suatu instrument dengan baik dan teliti

Untuk individu yang benar diberi angka 1, sedangkan yang salah diberi angka nol.

2.       Jumlahkan skor total untuk tiap individu.

3.       Gunakan rumus product moment correlation atau korelasi biserial.

 

2.       Reliabilitas

Suatu alat ukur dikatakan reliabel, apabila alat ukur itu dicobakan kepada objek  yang sama secara berulang-ulang maka hasilnya akan tetap sama, konsisten, stabil atau relatif sama.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas

a.       Konstruksi item yang tidak tepat, sehingga tidak dapat mempunyai daya pembeda yang kuat.

b.      Panjang/pendeknya suatu instrumen

c.       Evaluasi yang surjektif akan menurunkan reliabilitas

d.      Ketidaktepatan waktu yang diberikan

e.       Kemampuan yang ada dalam kelompok

f.       Luas/tidaknya sampel yang diambil.

  • Teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar

a.       Bentuk objektif

1)           Metode Belah dua

Dalam pelaksanaanya,seorang penilai hanya melakukan ujian satu kali terhadap sejumlah peserta, sehingga tidak ada pengaruh dari instrumen yang terdahulu. Jumlah butir soal yang diberikan harus genap sehingga dapat dibagi dua dan tiap kelompok mempunyai jumlah butir yang sama. Koefisien reliabilitas akan menunjukkan internal konsistensi dari pada butir soal dalam keseluruhan instrumen. Cara membelah dua instrumen tersebut dapat dilakukan dengan cara nomor genap dan ganjil, awal dan akhir. Untuk menentukan reliabilitas kedua bagian instrumen tersebut dapat digunakan Product Moment Coorelation, sedangkan untuk mencari reliabilitas keseluruhan instrumen dapat digunakan rumus Spearman Brown, sebagai berikut :

 

Keterangan :

: koefisien reliabilitas

r   : korelasi antara bagian instrumen

2)           Metode Ulangan

Pelaksanaannya dilakukan dua kali kepada sejumlah subjek yang sama, dalam waktu yang berbeda. Reliabilitas metode ulangan ini untuk melihat bagaimana stabilnya skor setiap individu apabila dilakukan pengujian dalam waktu  yang berbeda, dengan kondisi dan perlengkapan yang sama/ hampir bersamaan. Rumus yang digunakan untuk menentukan metode ulangan ini adalah Product Moment Correlation.

3)           Metode Bentuk Paralel

Bentuk ini dapat digunakan untuk memperkirakan reliabilitas dari semua tipe, tetapi koefisien yang dihasilkan hanya menggambarkan ekivalensi antara kedua instrumen. Tidak akan menunjukkan ekivalensi dalam kesukaran butir dan isi. Kedua bentuk instrumen yang diberikan mengukura hal yang sama, dengan memiliki tingkat kesukaran yang sama, pengetahuan dan keterangpilan yang sama dengan sistematika yang tidak berbeda antara kedua bentuk instrumen tersebut, tetapi dalam bentuk pertanyaan yang berbeda. Rumus yang dapat digunakan untuk menentukan reliabilitas instrumen dalam bentuk paralel ini adalah product moment correlation dan Rank order correlation.

b.      Bentuk essay

Rumus yang digunakan untuk mengukur reliabilitas tes berbentuk uraian dinamakan rumus Alpha, yaitu :

 

Dimana:

: Koefisien reliabilitas tes

n          : banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes

: Jumlah variansi skor dari tiap-tiap butir item

:Variansitotal

Interpretasi terhadap koefisien reliabilitas tes pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut:

0,80  < r11 £ 1,00                     reliabilitas sangat tinggi

0,60  < r11 £ 0,80                     reliabilitas tinggi

0,40  < r11 £ 0,60                     reliabilitas sedang

0,20  < r11 £ 0,40                     reliabilitas rendah

0,00  < r11 £ 0,20                     reliabilitas sangat rendah

Nilai r yang diperoleh dibandingkan dengan rtabel. Jika rhitung > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa soal tes reliabel.

 

3. Analisis soal tes

Untuk mendapatkan kualitas soal yang baik, maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1)      Daya pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang bodoh. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indek diskriminan. Untuk menentukan daya pembeda soal dapat dilakukan seperti yang dikemukakan oleh Prawironegoro (1985:11):

Terlebih dahulu dicari degress of freedom (df) dengan rumus:

df = (nt – 1) + (nr – 1)

dimana:

nt = nr = 27% x N

kemudian digunakan rumus:

 

dimana:

Ip = daya pembeda soal

Mt = rata-rata skor dari kelompok tinggi

Mr = rata-rata skor dari kelompok rendah

= jumlah kuadrat deviasi skor kelompok tinggi

= jumlah kuadrat deviasi skor kelompok rendah

n          = 27% x N

N         = banyak pengikut tes

Soal mempunyai daya pembeda yang berarti (signifikan) jika Ip hitung ³ Ip tabel pada derajat kebebasan yang sudah ditentukan.

2)      Indek kesukaran.

Agar tes dapat digunakan secara luas, setiap soal harus diselidiki tingkat kesukarannya yaitu apakah soal tersebut termasuk soal yang mudah, sedang atau sukar. Untuk menentukan indek kesukaran digunakan rumus yang dikemukakan Prawironegoro (1985:14) yaitu:

 

dimana:

Ik = indeks kesukaran

Dt = jumlah skor dari kelompok tinggi

Dr = jumlah skor dari kelompok rendah

m   = skor setiap soal jika benar

n    = 27% x N

N   = banyak pengikut tes

Soal dinyatakan sukar, jika           0%  £ Ik < 27%

sedang, jika        27% £ Ik £ 73%

mudah, jika                                Ik > 73%

3)      Penerimaan soal

Setiap soal yang telah dianalisa perlu diklasifikasikan menjadi soal yang tetap dipakai, direvisi atau dibuang. Menurut Prawironegoro (1985:16) tentang klasifikasi soal:

a)      Soal yang baik akan tetap dipakai jika Ip signifikan dan  0% < Ik £ 100%.

b)      Soal diperbaiki jika:

i.      Ip signifikan dan Ik = 100% atau Ik = 0%.

ii.      Ip tidak signifikan dan 0% < Ik < 100%.

c)      Soal diganti jika Ip tidak signifikan dan Ik = 100% atau Ik = 0%.

 



Hello world!

16 Dec

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.